Kini para suster dan dokter telah mendorongku ke dalam ruang operasi. Kupejamkan mataku, lalu dalam hati aku berdoa pada Tuhan agar semuanya berjalan lancar dan agar ini bukan hari terakhir dalam hidupku…
***
Dokter memberiku ucapan selamat. Serta merta, ia menyodorkanku sebuah surat. “Buka dan baca. Surat itu dari malaikatmu,” katanya, lalu ia berbalik dan keluar dari kamarku bersama ayah.
Kutatap surat itu. Di amplopnya tertulis To: Alistya D., From: G.A.S.. Lalu di sisi lain amplop itu, tepetnya di pojok atas amplop, tertulis “heart”. Dengan perasaan ingin tahu, kubuka amplop berwarna pastel yang kini ada di tanganku.
Dear Tya,
Selamat ya, kalau sekarang kamu baca surat ini, artinya kamu udah resmi jadi pemilik jantungku. Aku senang kamu yang memilikinya, karena aku yakin, kamu pasti bakal memanfaatkan hidupmu dan jantungku sebaik-baiknya.
Well, Ty, aku nulis surat ini karena aku ingin cerita sesuatu. Aku nggak tahu sama siapa lagi aku musti cerita selain sama kamu dan other persons who are such as you. Ini soal hidupku yang lebih banyak berisi kehampaan ketimbang warna-warni hidup.
Anyway, namaku Gina. Gina Annisa Swastika. Sejak kecil aku udah introvert sama dunia luar karena aku nggak percaya sama all things called love, loyalty, and belief. Itu semua sebenarnya bukan murni karena sifat jutek dan egoku, tapi karena latar belakangku. Yup, apalagi kalau bukan broken home background. Ayahku seorang pemabok dan ibuku seorang wanita karir. Meski ibuku terlihat suci, tapi dibaliknya aku yakin kalau dia selingkuh sama orang lain. Mereka selalu aja bertengkar tiap malam, bikin aku ga pernah bisa dapet bermimpi indah. Lalu, tiga tahun yang lalu mereka cerai. Itu ending yang bagus sebenarnya. Tapi saat itu aku baru sadar kalau ternyata mereka sama sekali nggak pernah nganggep aku ada. Apalagi mencintaiku. Bullshit! Bayangin aja, setelah mereka cerai, mereka langsung pindah ke kota lain dan ninggalin aku sendirian di rumah. Yea, walaupun ibuku selalu ngirimi aku uang dan aku udah 16 tahun. Tapi…didn’t it hurt? Aku nggak percaya kalau aku sebegitu nggak berartinya bagi mereka. Aku nggak nyangka...
Sejak saat itu aku ngerasa duniaku tambah hampa. Dan tiba-tiba aja aku berharap mereka balik lagi. Aku rela denger pertengkaran mereka tiap hari, tiap jam, tiap malam. Walau itu juga sebenarnya menyebalkan. But, it’s better than feeling of loneliness. Jauh, jauh lebih baik.
Tapi akhirnya, suatu hari aku ketemu sama seseorang. Dia yang ngeluarin aku dari sisi gelap kekosongan. Dia juga satu-satunya orang yang bikin aku ngerasain cinta. Cinta yang bener-bener murni dan tulus, bukan sekedar having fun. Dia selalu jaga aku dari luka dan nganggep aku apa adanya. Beda dengan teman-teman cowokku yang lain yang cuma suka fisikku dan mandang aku sebelah mata cuma karena aku produk broken home.
Cuma saat-saat itu aku nganggep dunia itu indah, nyata, dan penuh warna-warna. Dia juga udah ngenalin aku sama Tuhan yang dulu aku anggep nggak ada, dan kalaupun ada, aku anggep nggak adil. Cowok itu udah ngebuat aku percaya pada hal-hal yang dulu aku anggap sebagai isapan jempol, things that called love, loyalty, and belief.
Oh ya, namanya Yudish. Dia cowok yang benar-benar baik. Walau dia agak sedikit nerd, tapi dia sangat manis. Yeah, sweety…(atau mungkin cuma aku yang bisa ngeliat “manis”nya). Dia itu cinta pertama dan terakhirku. Indah kan? Atau aneh? Jujur, aku nggak bisa paham gimana orang lain bisa punya banyak cinta dan nganggep itu luar biasa. Mereka bilang “itu” adalah salah satu cara buat nyari yang terbaik. Tapi aku pikir, kapan kita akan dapat yang terbaik kalau kita selalu mencari yang “lebih”?
Anyway, bagiku, mungkin hanya itu masa-masa indah dalam hidupku. Aku nggak punya sweet childhood memories seperti kebanyakan orang. Yah, aku emang salah satu orang yang menyedihkan di dunia ini kalau aku tanpa Yudish.
Sayangnya, semua itu nggak berlangsung lama. Setelah dua tahun aku kenal dia, dia ninggalin aku...
Kuhembuskan napas dalam. Aku terhenyak membacanya. Kelihatannya cewek yang bernama Gina ini emang benar-benar cewek yang kurang beruntung. Bukan kurang beruntung secara fisik atau materi, tapi secara psikologis.
Nggak, dia nggak ninggalin aku pergi seperti cowok-cowok yang suka pedekate ke aku dan menghilang gitu aja kalau nggak aku kasih respon. Atau ninggalin seperti cowok ninggalin ceweknya. Itu masih bisa aku terima dan aku kejar. Tapi dia nggak.
Dia ninggalin aku dan dunia ini. Dia seperti kamu. Dia menderita penyakit jantung bawaan yang kronis.
Ya Tuhan, aku nggak percaya, seruku dalam hati.
Itu sebabnya dia terdiskriminasi oleh kaum cowok. Yudish nggak sekuat mereka. Dia nggak bisa main-main nggak jelas juntrungannya seperti cowok lain. Itulah yang ngebuat dia jadi nerd. Dan karena itu, tiap hari aku selalu berdoa agar ada seseorang yang baik hati yang ngasih jantung mereka yang udah ga dipakai buat Yudish. Tapi ternyata doa itu sama bullshitnya kayak doaku agar ortuku balik. Yah…Tuhan nyabut nyawa Yudish. Dia ngambil semua kebahagiaanku seperti dementor dalam cerita Harry Potter. Bedanya, kehilangan kebahagiaanku abadi dan nggak bisa dibalikin lagi, dan begitu juga Tuhan. Dia kekal dan amat sangat nggak mungkin akan mati hanya dengan mantra petronus. Jadi, berharap Yudish dan kebahagiaan kembali sama aja artinya dengan bermimpi sambil belajar. Impossible..
Kalau aja kamu jadi aku, kamu pasti akan sama ngerasa gila kayak aku. Perasaan kehilangan dan kesepian kali ini jauh berbeda sama kejadian perceraian ortuku. Ini seratus kali lebih menyakitkan. Dulu aku kehilangan orang yang nggak mancintai dan memperhatikan aku lebih dari diri mereka. Tapi sekarang…aku kehilangan orang yang benar-benar mencintai aku
Aku nggak tahu lagi tujuan hidupku. Aku nggak tahu gimana musti ngejalanin hari-hari esok dengan kehampaan yang menyedihkan lagi. Aku nggak kuat kalau musti hidup cuma dari segelintir kenangan indah. Dan sayangnya, aku juga nggak mampu mencintai orang lain. Aku ngerasa udah kehilangan semuanya. Semuanya. Kamu ngerti kan, orang yang udah kehilangan semangat hidup cuma seperti zombie yang bernapas. So, it was me.
Aku selalu nunggu telepon dari orang yang nggak mungkin bakal nelepon aku lagi. Aku selalu menanti seseorang yang nggak bakal datang ke rumahku lagi. Dan aku selalu berharap akan mendengar suara orang yang nggak mungkin bakal ngomong lagi. Dan ketika ulang tahunku yang ke delapan belas datang, aku ngerayainnya seorang diri di depan sebuah pusara dengan tangis dan ratapan. Yeah, I was mad...
Itulah hidupku tanpa Yudish. Gila memang, aku akui. Tapi...entahlah aku nggak bisa ngomong apa-apa.
Aku pernah berpikir untuk lepasin semua beban itu dengan kokain. Tapi hatiku menentang. Ajaran Yudish tentang bahaya narkoba udah terlalu tertanam di tubuhku. Aku nggak tahu lagi gimana aku musti hidup. Sampai akhirnya aku mutusin buat mengakhiri semuanya aja...
Kututup mulutku dengan tanganku. Sama sekali nggak percaya pada tulisan ini. Jadi..
Bagiku, tidur selamanya dalam tanah lebih membuatku tenang. Walau mungkin bagi semua orang, dunia di luar tanah itu indah dan penuh warna. Tapi aku nggak bisa melihatnya. Aku nggak bisa melihat warna itu. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu dalam duniaku. Yah, aku cuma pengin tertidur pulas selamanya dalam tanah, seperti Yudish.
Well, aku tahu kalau kamu pasti nganggap aku bodoh, gila, dan nggak waras. Mati cuma gara-gara cinta. Yah, kedengarannya emang bodoh banget. But, it's me. It's what my heart feels.. I can't live with noone treats me. Yea, my loneliness are killing me step by step... and, it's the end. Aku udah mutusin, kalau aku ingin mati. Tapi aku pengin kematianku nggak sia-sia.
Aku nggak tahu apakah Tuhan bakal nerima perbuatan anehku ini sebagai amal. Tapi aku akan mencobanya... aku tahu rasanya menunggu seseorang yang akan menolongmu. Dan itu rasanya nggak enak. Oleh karena itu, aku mutusin buat donorin organ-organ tubuhku pada orang-orang yang merluin, termasuk kamu…
Aku nggak tahu, apa kamu bisa nerima cerita ini sebagai alasan aku donorin jantungku sama kamu dan apakah setelah ini kamu sudi nerima jantungku. Tapi aku harap kamu mau doain aku agar aku diterima Tuhan di surga dan bisa bertemu dengan Yudish lagi.
Aku nggak tahu sama siapa lagi aku bisa mengharapkan doa untuku dari orang lain, selain kamu. Selai itu, aku juga berharap agar jantungku ini berguna bagi hidupmu. Agar kamu bisa tetap hidup dan memanfatkan hidupmu itu sebaik-baiknya. Cukup satu orang bodoh saja yang mati konyol karena kehausan akan cinta, yaitu aku.
So, Ty, tetaplah jidup dan menfatkan hidup ini sebaik-baiknya. Di sini aku juga berdoa untukmu agr hidupmu indah dan bahagia bersama orang-orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Life is beautiful for the one who’s loving and loved...
With Luv,
G.A.S.
Butir-butir airmata mengalir pelan dari pelupuk mataku. Hatiku benar-benar tersentuh oleh surat ii, surat malaikatku, penolong hidupku. Gina. Ada suatu rasa kagum, haru, dan sedih dalm hatiku. Rasa kagum atas ketegaran dirinya dan jiwa penolongnya. Haru atas kisah cintanya yang putih. Dan sedih karena orang seperti dia telah tiada.Andai aku sempat mengenalnya, aku pasti akan memeluknya dan menghapus airmatanya, sekedar menguatkan jiwanya yang begitu rapuh.
Kudongakkan wajahku dan kutolehkan ke arah langit. Walau di langit biru hanya ada awan yang seputih kaps, tapi aku yakin Gina kini sedang melihatku dan tersenyum padaku. Maka kusunggingkan sebuah senyum pada langit dan dalm hati aku berjanji bahwa aku akan selalu mendoakannya hingga jantungnya yang bersarang di dadaku berhenti berdetak.
***
“Bruaak!!” seseorang menabrak tubuhku hingga aku jatuh terduduk.
Orang-orang yang sedang duduk di kursi tunggu di koridor sekitarku menoleh kaget. Sedang orang yang menabrakku menawarkan tangannya sebagi bentuan. “Maaf, maaf,” ucapnya berulang kali.
Kuterima tawaran tangannya. Ketika aku telah benar-benar berdiri, kutatap wajah si penabrak itu dan sepasang mata hitam yang teduh menyambutku. Entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang. Kepegang dadaku, takut-takut aku akan mendapat serangan jantung lagi seperti dulu.
“Kamu nggak papa?” tanyanya cemas. “Maaf, tadi aku meleng.”
Aku memandang cowok itu. “Ya, aku baik-baik aja. It’s okay,” jawabku.
Cowok itu menghela napas lega. “Oke. Kalau gitu, aku duluan ya?”
Aku mengangguk dan dia beranjak pergi dengan terburu-buru. Aku hendak pergi juga ketika tanpa sengaja mataku menangkap suatu benda tergeletak di atas lantai. Kupungut benda itu, sebuah amplop berwarna cokelat pastel yang berisi surat. Lagi-lagi jantungku berdetak dengan cepat ketika aku melihat tulisan yang tertera di atas amplop itu, To: Raditya, From: G.A.S.. Kubalik amplop itu dan di pojok atasnya tertulis “eyes”...
fin

