Senin, 2008 Juli 14

White Suicide

Aku bisa merasakan denyut jantungku yang berdetak tak keruan sepanjang lorong rumah sakit ini. Kepegang dadaku, sesuatu bergemuruh di dalamnya. Rasa takut. Cemas. Dan kekhawatiran. Serta banyak kebahagiaan yang entah bagaimana harus kuungkapkan. Apakah semuanya benar-benar akan berakhir? Rasa sakit yang kurasa terus selama ini? Penantian? Dan ketidakmampuan fisik?
Kini para suster dan dokter telah mendorongku ke dalam ruang operasi. Kupejamkan mataku, lalu dalam hati aku berdoa pada Tuhan agar semuanya berjalan lancar dan agar ini bukan hari terakhir dalam hidupku…
***
Dokter memberiku ucapan selamat. Serta merta, ia menyodorkanku sebuah surat. “Buka dan baca. Surat itu dari malaikatmu,” katanya, lalu ia berbalik dan keluar dari kamarku bersama ayah.
Kutatap surat itu. Di amplopnya tertulis To: Alistya D., From: G.A.S.. Lalu di sisi lain amplop itu, tepetnya di pojok atas amplop, tertulis “heart”. Dengan perasaan ingin tahu, kubuka amplop berwarna pastel yang kini ada di tanganku.


Dear Tya,
Selamat ya, kalau sekarang kamu baca surat ini, artinya kamu udah resmi jadi pemilik jantungku. Aku senang kamu yang memilikinya, karena aku yakin, kamu pasti bakal memanfaatkan hidupmu dan jantungku sebaik-baiknya.
Well, Ty, aku nulis surat ini karena aku ingin cerita sesuatu. Aku nggak tahu sama siapa lagi aku musti cerita selain sama kamu dan other persons who are such as you. Ini soal hidupku yang lebih banyak berisi kehampaan ketimbang warna-warni hidup.
Anyway, namaku Gina. Gina Annisa Swastika. Sejak kecil aku udah introvert sama dunia luar karena aku nggak percaya sama all things called love, loyalty, and belief. Itu semua sebenarnya bukan murni karena sifat jutek dan egoku, tapi karena latar belakangku. Yup, apalagi kalau bukan broken home background. Ayahku seorang pemabok dan ibuku seorang wanita karir. Meski ibuku terlihat suci, tapi dibaliknya aku yakin kalau dia selingkuh sama orang lain. Mereka selalu aja bertengkar tiap malam, bikin aku ga pernah bisa dapet bermimpi indah. Lalu, tiga tahun yang lalu mereka cerai. Itu ending yang bagus sebenarnya. Tapi saat itu aku baru sadar kalau ternyata mereka sama sekali nggak pernah nganggep aku ada. Apalagi mencintaiku. Bullshit! Bayangin aja, setelah mereka cerai, mereka langsung pindah ke kota lain dan ninggalin aku sendirian di rumah. Yea, walaupun ibuku selalu ngirimi aku uang dan aku udah 16 tahun. Tapi…didn’t it hurt? Aku nggak percaya kalau aku sebegitu nggak berartinya bagi mereka. Aku nggak nyangka...
Sejak saat itu aku ngerasa duniaku tambah hampa. Dan tiba-tiba aja aku berharap mereka balik lagi. Aku rela denger pertengkaran mereka tiap hari, tiap jam, tiap malam. Walau itu juga sebenarnya menyebalkan. But, it’s better than feeling of loneliness. Jauh, jauh lebih baik.
Tapi akhirnya, suatu hari aku ketemu sama seseorang. Dia yang ngeluarin aku dari sisi gelap kekosongan. Dia juga satu-satunya orang yang bikin aku ngerasain cinta. Cinta yang bener-bener murni dan tulus, bukan sekedar having fun. Dia selalu jaga aku dari luka dan nganggep aku apa adanya. Beda dengan teman-teman cowokku yang lain yang cuma suka fisikku dan mandang aku sebelah mata cuma karena aku produk broken home.
Cuma saat-saat itu aku nganggep dunia itu indah, nyata, dan penuh warna-warna. Dia juga udah ngenalin aku sama Tuhan yang dulu aku anggep nggak ada, dan kalaupun ada, aku anggep nggak adil. Cowok itu udah ngebuat aku percaya pada hal-hal yang dulu aku anggap sebagai isapan jempol, things that called love, loyalty, and belief.
Oh ya, namanya Yudish. Dia cowok yang benar-benar baik. Walau dia agak sedikit nerd, tapi dia sangat manis. Yeah, sweety…(atau mungkin cuma aku yang bisa ngeliat “manis”nya). Dia itu cinta pertama dan terakhirku. Indah kan? Atau aneh? Jujur, aku nggak bisa paham gimana orang lain bisa punya banyak cinta dan nganggep itu luar biasa. Mereka bilang “itu” adalah salah satu cara buat nyari yang terbaik. Tapi aku pikir, kapan kita akan dapat yang terbaik kalau kita selalu mencari yang “lebih”?
Anyway, bagiku, mungkin hanya itu masa-masa indah dalam hidupku. Aku nggak punya sweet childhood memories seperti kebanyakan orang. Yah, aku emang salah satu orang yang menyedihkan di dunia ini kalau aku tanpa Yudish.
Sayangnya, semua itu nggak berlangsung lama. Setelah dua tahun aku kenal dia, dia ninggalin aku...
Kuhembuskan napas dalam. Aku terhenyak membacanya. Kelihatannya cewek yang bernama Gina ini emang benar-benar cewek yang kurang beruntung. Bukan kurang beruntung secara fisik atau materi, tapi secara psikologis.
Nggak, dia nggak ninggalin aku pergi seperti cowok-cowok yang suka pedekate ke aku dan menghilang gitu aja kalau nggak aku kasih respon. Atau ninggalin seperti cowok ninggalin ceweknya. Itu masih bisa aku terima dan aku kejar. Tapi dia nggak.
Dia ninggalin aku dan dunia ini. Dia seperti kamu. Dia menderita penyakit jantung bawaan yang kronis.
Ya Tuhan, aku nggak percaya, seruku dalam hati.
Itu sebabnya dia terdiskriminasi oleh kaum cowok. Yudish nggak sekuat mereka. Dia nggak bisa main-main nggak jelas juntrungannya seperti cowok lain. Itulah yang ngebuat dia jadi nerd. Dan karena itu, tiap hari aku selalu berdoa agar ada seseorang yang baik hati yang ngasih jantung mereka yang udah ga dipakai buat Yudish. Tapi ternyata doa itu sama bullshitnya kayak doaku agar ortuku balik. Yah…Tuhan nyabut nyawa Yudish. Dia ngambil semua kebahagiaanku seperti dementor dalam cerita Harry Potter. Bedanya, kehilangan kebahagiaanku abadi dan nggak bisa dibalikin lagi, dan begitu juga Tuhan. Dia kekal dan amat sangat nggak mungkin akan mati hanya dengan mantra petronus. Jadi, berharap Yudish dan kebahagiaan kembali sama aja artinya dengan bermimpi sambil belajar. Impossible..
Kalau aja kamu jadi aku, kamu pasti akan sama ngerasa gila kayak aku. Perasaan kehilangan dan kesepian kali ini jauh berbeda sama kejadian perceraian ortuku. Ini seratus kali lebih menyakitkan. Dulu aku kehilangan orang yang nggak mancintai dan memperhatikan aku lebih dari diri mereka. Tapi sekarang…aku kehilangan orang yang benar-benar mencintai aku
Aku nggak tahu lagi tujuan hidupku. Aku nggak tahu gimana musti ngejalanin hari-hari esok dengan kehampaan yang menyedihkan lagi. Aku nggak kuat kalau musti hidup cuma dari segelintir kenangan indah. Dan sayangnya, aku juga nggak mampu mencintai orang lain. Aku ngerasa udah kehilangan semuanya. Semuanya. Kamu ngerti kan, orang yang udah kehilangan semangat hidup cuma seperti zombie yang bernapas. So, it was me.
Aku selalu nunggu telepon dari orang yang nggak mungkin bakal nelepon aku lagi. Aku selalu menanti seseorang yang nggak bakal datang ke rumahku lagi. Dan aku selalu berharap akan mendengar suara orang yang nggak mungkin bakal ngomong lagi. Dan ketika ulang tahunku yang ke delapan belas datang, aku ngerayainnya seorang diri di depan sebuah pusara dengan tangis dan ratapan. Yeah, I was mad...
Itulah hidupku tanpa Yudish. Gila memang, aku akui. Tapi...entahlah aku nggak bisa ngomong apa-apa.
Aku pernah berpikir untuk lepasin semua beban itu dengan kokain. Tapi hatiku menentang. Ajaran Yudish tentang bahaya narkoba udah terlalu tertanam di tubuhku. Aku nggak tahu lagi gimana aku musti hidup. Sampai akhirnya aku mutusin buat mengakhiri semuanya aja...
Kututup mulutku dengan tanganku. Sama sekali nggak percaya pada tulisan ini. Jadi..
Bagiku, tidur selamanya dalam tanah lebih membuatku tenang. Walau mungkin bagi semua orang, dunia di luar tanah itu indah dan penuh warna. Tapi aku nggak bisa melihatnya. Aku nggak bisa melihat warna itu. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu dalam duniaku. Yah, aku cuma pengin tertidur pulas selamanya dalam tanah, seperti Yudish.
Well, aku tahu kalau kamu pasti nganggap aku bodoh, gila, dan nggak waras. Mati cuma gara-gara cinta. Yah, kedengarannya emang bodoh banget. But, it's me. It's what my heart feels.. I can't live with noone treats me. Yea, my loneliness are killing me step by step... and, it's the end. Aku udah mutusin, kalau aku ingin mati. Tapi aku pengin kematianku nggak sia-sia.
Aku nggak tahu apakah Tuhan bakal nerima perbuatan anehku ini sebagai amal. Tapi aku akan mencobanya... aku tahu rasanya menunggu seseorang yang akan menolongmu. Dan itu rasanya nggak enak. Oleh karena itu, aku mutusin buat donorin organ-organ tubuhku pada orang-orang yang merluin, termasuk kamu…
Aku nggak tahu, apa kamu bisa nerima cerita ini sebagai alasan aku donorin jantungku sama kamu dan apakah setelah ini kamu sudi nerima jantungku. Tapi aku harap kamu mau doain aku agar aku diterima Tuhan di surga dan bisa bertemu dengan Yudish lagi.
Aku nggak tahu sama siapa lagi aku bisa mengharapkan doa untuku dari orang lain, selain kamu. Selai itu, aku juga berharap agar jantungku ini berguna bagi hidupmu. Agar kamu bisa tetap hidup dan memanfatkan hidupmu itu sebaik-baiknya. Cukup satu orang bodoh saja yang mati konyol karena kehausan akan cinta, yaitu aku.
So, Ty, tetaplah jidup dan menfatkan hidup ini sebaik-baiknya. Di sini aku juga berdoa untukmu agr hidupmu indah dan bahagia bersama orang-orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Life is beautiful for the one who’s loving and loved...

With Luv,
G.A.S.

Butir-butir airmata mengalir pelan dari pelupuk mataku. Hatiku benar-benar tersentuh oleh surat ii, surat malaikatku, penolong hidupku. Gina. Ada suatu rasa kagum, haru, dan sedih dalm hatiku. Rasa kagum atas ketegaran dirinya dan jiwa penolongnya. Haru atas kisah cintanya yang putih. Dan sedih karena orang seperti dia telah tiada.Andai aku sempat mengenalnya, aku pasti akan memeluknya dan menghapus airmatanya, sekedar menguatkan jiwanya yang begitu rapuh.
Kudongakkan wajahku dan kutolehkan ke arah langit. Walau di langit biru hanya ada awan yang seputih kaps, tapi aku yakin Gina kini sedang melihatku dan tersenyum padaku. Maka kusunggingkan sebuah senyum pada langit dan dalm hati aku berjanji bahwa aku akan selalu mendoakannya hingga jantungnya yang bersarang di dadaku berhenti berdetak.
***
“Bruaak!!” seseorang menabrak tubuhku hingga aku jatuh terduduk.
Orang-orang yang sedang duduk di kursi tunggu di koridor sekitarku menoleh kaget. Sedang orang yang menabrakku menawarkan tangannya sebagi bentuan. “Maaf, maaf,” ucapnya berulang kali.
Kuterima tawaran tangannya. Ketika aku telah benar-benar berdiri, kutatap wajah si penabrak itu dan sepasang mata hitam yang teduh menyambutku. Entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang. Kepegang dadaku, takut-takut aku akan mendapat serangan jantung lagi seperti dulu.
“Kamu nggak papa?” tanyanya cemas. “Maaf, tadi aku meleng.”
Aku memandang cowok itu. “Ya, aku baik-baik aja. It’s okay,” jawabku.
Cowok itu menghela napas lega. “Oke. Kalau gitu, aku duluan ya?”
Aku mengangguk dan dia beranjak pergi dengan terburu-buru. Aku hendak pergi juga ketika tanpa sengaja mataku menangkap suatu benda tergeletak di atas lantai. Kupungut benda itu, sebuah amplop berwarna cokelat pastel yang berisi surat. Lagi-lagi jantungku berdetak dengan cepat ketika aku melihat tulisan yang tertera di atas amplop itu, To: Raditya, From: G.A.S.. Kubalik amplop itu dan di pojok atasnya tertulis
“eyes”...
fin

Sabtu, 2008 Juni 07

Kakek dan Malaikat

Namaku Benjamin, tapi temanku biasa memanggil dengan sebutan Ben Si Penakut. Itu karena aku memang seorang penakut.
Suatu hari teman-temanku , mengajakku bermain ke suatu tempat. Awalnya, aku menolak ajakan mereka, tapi mamaku menyuruhku untuk sesekali ikut bermain bersama mereka. Ternyata, mereka mengajakku bermain di suatu taman yang baru kali ini kudatangi. Kemudian mereka mencoba semua permainan yang ada di situ. Tapi aku tidak ikut bermain, aku takut terjatuh dan berdarah.
“Ben, ayo main ayunan!” ajak Rian.
Aku menggeleng. “Dasar penakut!” ejeknya. Rian lalu bergabung dengan teman-temanku yang lain. Sedangkan aku hanya duduk di kursi taman sambil memandang daerah sekitar.
Bebapa lama kemudian Terry datang. “Ben, temani aku ke toilet yuk!,” pintanya.
Aku mengangguk, lalu kami pergi ke sisi lain taman itu untuk mencari toilet. Begitu ketemu, Terry langsung masuk dan menyuruhku menunggu di luar toilet. Setelah lama di dalam, Terry tidak keluar-keluar. Aku cemas. Akhirnya aku masuk ke toilet itu, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di situ. Aku muali takut, jangan-jangan Terry ditangkap hantu atau monster toilet. Aku segera mencarinya di dekat toilet itu, tapi tidak ketemu.
Lalu kuputuskan untuk memberitahukan kejadian ini pada teman-teman yang lain. Namun, merekapun ternyata tak ada. Jadi, aku bertanya pada anak lain yang bermain di situ.
“Oh, mereka sudah pulang sejak tadi,” jawabnya.
Aku kaget. Tiba-tiba saja aku mengerti kalau mereka sengaja meninggalkan aku sendiri. Mereka telah mengerjaiku. Dengan perasaan kesal, aku duduk di kursi taman.
Hari semakin sore dan taman semakin sepi. Sebenarnya tadi aku mau pulang, tapi aku tidak tahu daerah ini. Aku jadi takut tersesat dan bertemu orang jahat di jalan.
Tak lama kemudian ada seorang kakek yang menghampiriku. Dia bertanya, “Kenapa kamu sendirian, Nak? Sudah sore. Apa kamu tidak mau pulang?”
Aku memandangnya takut karena aku tak mengenalnya.
Kakek itu tersenyum, lalu berkata, “Jangan takut pada kakek. Kakek tak akan menggigitmu. Nah, sekarang kasih tahu kakek siapa namamu dan kenapa kamu masih di sini.”
“A-aku Ben. Sebenarnya aku ke sini diajak main teman-temanku. Tapi ternyata mereka membohongiku, mereka pulang meninggalkan aku. Padahal, aku tak tahu jalan pulang,” jawabku.
“Oh kasian sekali, bagaimana kalau kakek mengantarmu pulang?” tanya Kakek.
Aku menggeleng. “Nanti Kakek menculikku.”
Kakek itu tertawa. “Menculikmu? Tidak mungkin. Kakek sudah tua,” ucapnya.
Akhirnya, aku mau diantar olehnya. Kakek bertanya dimana rumahku. Aku menjawabnya, “Jalan Pahlawan nomor 24.” Lalu aku bertanya, “Rumah Kakek dimana?”
“Kakek tidak punya rumah. Kakek tinggal di taman tadi.”
Aku menatapnya bingung, lalu berkata, “Kakek tidak seperti gelandangan.”
Kakek tersenyum dan berkata, “Oh ya? Terima kasih.”
“Ngomong-ngomong, kok Kakek tidak takut tinggal di taman? Di sana kan gelap, pasti ada hantunya,” ujarku.
“Kakek tidak takut. Kakek percaya, di dekat kakek ada malaikat yang melindungi dan mengawasi kakek. Kamu juga punya, loh,” terangnya.
“Oh ya? Aku juga punya malaikat?” tanyaku.
“Ya, mereka dikirim oleh Tuhan Untuk melindungi kita. Jadi, untuk apa kita takut? Mereka memang tidak terlihat, tapi mereka sebenarnya ada. Di depan dan belakang kita.”
“Oh begitu ya? Jadi, sebenarnya aku tak pernah sendiri? Dalam gelap juga?” tanyaku.
Kakek mengangguk.
“Kalau begitu, aku tidak boleh takut lagi,” kataku pada diriku sendiri. Tiba-tiba saja aku merasa berani. “Oh iya, Kek, sebenarnya tadi teman-temanku membohongiku karena mereka tahu aku penakut.”
“Oh ya? Tapi kamu tidak membenci mereka dan tidaka akan balas dendam kan?” tanyanya.
Aku bingung menjawabnya. Aku ingin membalas mereka karena sekarang aku sudah tidak takut lagi. “Entahlah, Kek,” jawabku.
“Sebaiknya jangan, karena selain melindungi kita malaikat juga bertugas mengawasi kita. Mereka akan mencatat perbuatan baik dan buruk kita. Semakin banyak perbuatan baik yang kita lakukan, kita akan banyak mendapat pahala dan hidup semakin menyenangkan. Tapi sebaliknya, semakin banyak perbuatan buruk, akan mendapat banyak dosa dan hidup tidak tanteram, serta masuk neraka, loh,” jelasnya.
Aku mengangguk. “Baik, Kek, aku mengerti,” ucapku. Kemudian, dari kejauhan aku bisa melihat rumahku. “Lihat, Kek, itu rumahku,” seruku senang.
Beberapa menit kemudian kami sampai di rumahku. Mama sangat senang melihatku pulang karena mama terus mencemaskanku sejak tadi. Mama berterima kasih pada kakek dan mengajak kakek makan malam bersama kami. Tapi, kakek menolak dan berkata bahwa dia akan kembali ke taman. Namun, ketika kakek sedang menyeberang jalan, ada sebuah mobil yang menabraknya. Aku segera berlari menghampiri kakek, sedang mama masuk ke rumah untuk menelepon ambulans.
Kakek belum pingsan, tapi ada begitu banyak darah yang keluar dari pelipisnya. Kakek terbujur kaku di jalan.
“Kakek, katanya kakek punya malaikat yang melindungi kakek. Tapi apa? Nyatanya kakek tertabrak oleh mobil itu,” seruku.
Kakek tersenyum, lalu dengan sisa tenaganya kakek berkata, “Karena kakek sudah tua, mungkin sudah saatnya malaikat lain menjemput kakek untuk dibawa ke sisi Tuhan.”
Air mata mulai mengalir deras di pipiku. “Tidak, Kek. Kakek akan dibawa ke rumah sakit dan kemudian akan sembuh lagi,” ucapku.
Kakek menggeleng dan berkata, “Tidak, Ben. Ini saatnya kakek pergi. Kakek harap kamu akan selalu ingat nasihat kakek tadi. Jadilah anak yang baik dan pemberani…”
Kemudian kakek menutup matanya dan menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya. Sejak saat itulah aku bukan lagi Ben si Penakut.

Rabu, 2008 Maret 19

untitled

biarkan aku menjadi capung
biarkan aku terbang bebas ke langit biru yang luas
jangan batasi aku dalam kaca bening yang memenjarakan aku

berikan aku hidup
berikan aku rumah yang hijau dan rimbun

biarkan aku tertidur dalam rumah itu
biarkan aku mendengar napas kehidupannya
biarkan aku menyatu dengan jiwanya..
yang damai dan teduh
yang memeberi kita kehidupan
yang memberi kita napas
yang memeluk kita dalam kerimbunan daunnya
yang emlindungi kita dari keganasan mentari
yang emnjaga bumi dari kematian

dan rawatlah rumah itu
cintai ia
cintai aku

karena dalam nepasnya, ada napasku
karena, dalam jiwanya, ada jiwaku
karena, dalam kehidupannya, ada hidupku, yang mungkin telah mati

Rabu, 2008 Maret 12

curhat aja deh

huaw.. kahirnya sejarah mencatat SMANSA bali gasik!!!!!!!!
harusnya sih q daftarin ke rekor muri, mengingat ini tuh kejadian langka and ga terduga...

betewe, eniwei, q lagi bingung neh mo masuk fakultas apa besok kuliah, hehe, padahal masih jadi cunguk XIA2. tapi udah kepikiran terus...kayak kalo jatuh cintrong gitu.
(ye, padahal kan belum pernah jatuh cintrong, adanya jatuh tertimpa gajah) untung bgt ada kaka2 kelas yang baek ati en mo kasi bocoran lumpur lapindo (ya ga lah), maksude, kasi bocoran soal kuliah gitcu.

oke, pokoknya q pingin mo masuk teknik. ga peduli teknik kimia, sipil, mesin, ato bahkan teknik ngurut yang cihui. ga peduli di ITB, UGM, UI, UNDIP, ato bahkan STIE (ha, STIE???? ga ding!)

so doain q aja ya! siapapun kmu yg lgi baca (walo mungkin cuma lalat tse2)..

AMIN>>>>

Selasa, 2008 Maret 04

Hati Buat Cupid

Lala masih berseri-seri ketika bertanya, Well, Ri, makasih banget ya. Ini semua berkat kamu loh. Kamu emang bener-benr sahabat baikku. Oh iya, aku udah pernah janji mau ngasih apapun sama kamu kalau aku berhasil jadian sama Deri kan? Nah, sekarang kasih tahu aja. Tapi jangan yang mahal-mahal ya! Awas kalo kamu minta BMW. Sampe aku pensiun cicilanku pasti belum lunas, kecuali kamu mau nyomblangin aku sama Daniel Radcliffe.” Lala tertawa kecil.

“Aku mau hatimu,” ucap Rio, singkat dan tegas.

Lala mendadak berhenti tertawa, tapi kemudian tertawa lebih keras lagi. “Hahaha, kamu tuh emang paling doyan becanda ya? Emang aku sapi? Main minta hati aja, berapa kilo?” timpal Lala sambil ketawa-ketiwi.

Tapi muka Rio, cowok yang ada di hadapan Lala, tetap serius. “Aku mau jadi pacarmu,” ucapnya, lagi-lagi singkat dan tegas.

Dan lagi-lagi Lala berhenti tertawa, tapi tidak tertawa lagi, justru memandang Rio seolah-olah Rio berubah menjadi monyet. “Kamu serius?” tanyanya super bingung.

Rio mengangguk tegas ala orang Jepang.

Impossible,” ucap Lala.

Possible,” bantah Rio.

“Satu tambah satu berapa?” Lala menanyakan sandi mereka.

“Jendela.”

“Kamu bener-bener Rio.”

“Memang.”

“Nggak. Kamu pasti kesurupan,” komentar Lala. “Assalamualaikum.”

“Waalikumussalam.”

“Kalo gitu kamu pasti salah minum obat. Tadi kamu minum obat apa?”

“Bodrexin.”

“Terus, kenapa kamu aneh? Kamu bukan Rio samaran, nggak kesurupan, dan nggak salah minum obat. Terus, kenapa kamu aneh?” ulang Lala.

“Karena aku nggak pingin kehilangan kamu.”

“Aku nggak akan hilang keman-mana.”

“Nggak. You will. There’s no doubt about it. Later or sooner,” kata Rio.

Entah kenapa, Lala nggak membalas kata-kata Rio. Baru kali ini dia nggak bisa bantah ucapan kata-kata Rio. Padahal dulu dia selalu menang berdebat dengannya, walau harus mengeluarkan jurus terakhirnya, menangis. Dia hanya bisa memendang sahabatnya yang sudah berulang kali jadi malaikatnya, kadang malaikat penolong, kadang malaikat iseng, dan kali ini malaikat cinta.

“Maaf,” ucap Rio tiba-tiba. “Nggak seharusnya aku bilang gitu ke kamu. Nggak seharusnya aku ngerusak kebahagiaanmu. Justru, harusnya aku ikut bahagia kalo kamu bahagia. Maaf, aku terlalu egois. Dah, aku duluan…”

Rio bangkit dan berjalan pergi, menjauh dari pandangan Lala yang tetap terpaku diam .

***

“Apa maksud Rio? Dia mau cari perkara?” tanya Deri marah keesokan harinya ketika Lala menceritakan apa yang telah terjadi antara ia dan Rio kemarin.

“Aduh, Der, aku nggak lagi ngjak kamu berantem. Aku mau curhat dan cari solusi bersama,” sahut Lala. “Gimanapun, ini bener-bener aneh.”

Deri nggak membalas ucapan Lala. Dia berusaha mati-matian untuk tidak marah

“Dan gara-gara itu sejak kemarin aku belum lihat dia sampai hari ini. Jangan-jangan dia sakit dan nggak masuk sekolah gara-gara ini. Duh, gimana nih?”

Deri masih diam. Dalam hati ia kesal dengan ocehan Lala yang terus-menerus mengkhawatirkan keadaan Rio. Sebenarnya, dalam lubuk hati terdalam Deri, dia mulai mengutuk-utuk Rio. “Dasar, kutu kupret! Kutu kebo! Kutu ayam! Kutu buku! Hah?! Pokoknya, raja kutu!”

“ Ya udah. Tolak aja permintaannya! Kamu mau kan?” tanya Deri.

Lala berpikir bimbang sebentar lalu berkata, “Tapi…. Aku udah janji…”

“So? Kamu mau selingkuh, gitu?” tany Deri setengah gila. “Ya ampun, La, kita baru jalan dua hari, two days. Kamu mau kita langsung bubaran?”

“Aku ga mau,” sahut Lala cepat. “Tapi….”

“ Apa sih masalahmu?” tany Deri meradang.

“Dia kan, maksudku Rio, sahabatku. Dia juga yang udah nyomblangin kita. Aku nggak pingin…”

“Kehilangan dia? Iya? Kalo gitu kamu lebih milih kehilangan aku dibanding kehilangan dia, gitu kan?” seru Deri marah. Kesabarannya benar-benar habis. Tanpa menunggu jawaban Lala, dia bangkit dan beranjak pergi. Seperti yang kemarin dilakukan Rio, dia menjauh dari pandangan Lala yang tetap terpaku diam.

Nggak lama kemudian ada butiran-butiran air yang jatuh dari pelupuk mata Lala, mengalir deras membentuk genangan kecil di pipinya. “Kenapa semuanya jadi kayak gini sih?” keluh Lala sedih.

Dalam tangisnya, Lala mulai menjelajahi memori-memorinya yang indah dan pahit yang pernah dia lewati. Dia ingat bagaimana pertama kalinya dia mengenal Deri dan lengsung mengaguminya. Dia ingat bagaimana hancur hatinya saat tahu bahwa Deri sudah punya cewek dan bagaimana hatinya cerah kembali ketika tahu kalau mereka udah putus. Dan Lala juga ingat, bagaimana dia membagi semua perasaan itu dengan Rio. Serta diingatnya, betapa baiknya Rio yang berhasil menjadi cupidnya dan membuat taman hatinya bersemi. Lalu, ingatannya sampai pada hari kemarin, ketika Rio meminta hatinya…

Airmata terus mengalir deras di atas pipi Lala. Dia membayangkan betapa perihnya Rio saat dia curhat soal Deri dulu, apalagi ketika dia memohon agar Rio mau jadi cupidnya…

***

Semua itu terjadi tepat seminggu menjelang perpisahan kelas 3 SMU. Dan selam seminggu, sejak hari itu, Lala nggak pernah lagi bertegur sapa ataupun ngobrol dengan Rio. Ya, dia lebih memilih Deri, obsesinya, dibanding Rio, sahabatnya yang ternyata mencintainya.

Upacara perpisahan telah usai. Disana-sini terlihat wajah bahagia dan haru siswa-siswi kelas tiga. Mereka saling tertawa, saling tersenyum, saling memberi selamat, saling menggantungkan harapan, dan bahkan ada yang saling menangis. Lala masih tertawa-tawa dengan tema-temannya ketika tiba-tiba dia ingat ada sesuatu yang tertinggal di kelasnya. Dia segera keluar dari aula sekolahnya dan berjalan menuju kelasnya. Begitu sampai di bangkunya, didapatinya novelnya tertinggal di laci.

“Huff, untung masih ada,” ucapnya lirih. Dia melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Aku pasti bakal kangen kelas ini, batinnya.

Tiba-tiba pandangannya terhenti ketika dia melihat ada sebuah notes yang tergeletak di bawah meja. Lala kemudian melangkah ke bangku itu dan memungut notes itu. Dibukanya halaman pertama, dan tertulis; Rio’s property- dilarang membaca, mencetak ulang, meyimpan dalm sistem retrival, atau memindahkan dengan cara bagaimanapun tanpa izin pemilik. Hak cipta dilindungi UU 2005.

Lala tersenyum kecil, kemudian membuka-buka notes itu. Isinya seperti yang dia duga, gambar sketsa, lirik-lirik lagu, catatan-catatan dengan tulisan mirip sandi rumput, dan… Lala terpaku, didapatnya halaman terakhir notes itu berisi puisi dengan tulisan yang lebih rapi (walau tetap mirip sandi rumput) dan dengan cantuman tanggal dua hari yang lalu. Puisi itu tanpa judul.

Aku masih ingat bahwa….

Setiap kata yang kauucapkan hanya tentang dirinya

Setiap lagu yang kau nyanyikan hanya untuk mengenangnya

Setiap nada indah dalam petikan gitarmu hanya untuk dirinya

Setiap senyum yang kulihat kau ciptakan hanya untuk dirinya

Setiap luka yang kau bawa hanya karenanya

Setiap jengkal dalam taman hatimu kau persembahkan hanya untuk dirinya

Dan…aku di sini hanya terdiam, menunggu…

Menunggu sampai kau sadar aku ada di bumi ini

Menunggu sampai kau tahu aku ada dan nyata

Menunggu sampai aku lelah

Menunggu sampai aku mengerti mengapa aku musti mencintaimu

Menunggu sampai semua rasa cintaku padamu menguap oleh waktu dan kebosanan…

Tes. Setitik airmata jatuh di atas lembar puisi itu. Lala mendadak merasa hatinya begitu perih dan sesak. Sebegitu jahatnyakah aku? Apa yang harus kulakukan?tanya Lala dalam hati. Wajahnya tetap tertunduk ke bawah. Dia biarkan waktu berjalan melewatinya dan menentukan jalan hidupnya…

Lala ingin membiarkan waktu yang menjawab pertanyaan dalam dirinya. Tapi tiba-tiba dia sadar, dia nggak boleh tertinggal oleh waktu, dia harus mengejar waktu sebelum semuanya terlambat. Kemudian, Lala berlari menuju aula, mencari sosok Rio dan menemukannya.

Dalam dekapan waktu, Lala memberitahu Rio bahwa Deri mungkin hanya obsesinya, obsesi yang nggak seharusnya menguasai seluruh denyut nadinya. Dia berkata pada Rio bahwa dia berharap agar mereka selamanya akan tetap bersahabat. Mereka akan tetap seperti dulu, saling membagi dan dibagi, seperti sebuah kata yang indah; sahabat melipatgandakan kebahagiaanmu dan membagi kesedihanmu. Dan ya, mungkin akhirnya Lala akan memberikan hatinya justru pada cupidnya yang senantiasa menemaninya, sesuai perjalanan waktu dan takdir.

The End

Minggu, 2008 Februari 03

teenlit

Me Against the Destiny


Dengan terburu-buru, kumasukkan semua bajuku ke dalam koper besarku. Lalu, tanganku beralih meraih semua buku di atas meja belajar dan menjejalkannya begitu saja ke dalam sebuah tas besar. Terakhir, kuambil dompet dan laptop bututku danlangsung memasukkannya secara biadab ke dalam shoulder bag. Dengan susah payah kubawa ketiga jenis tas itu turun ke lantai bawah, dan kulihat, di samping bawah tangga, mama menatapku sambil berkacak pinggang mirip piala.
“Mau apa kau?” tanyanya dengan nada oktaf tinggi.
“Apa lagi? Keluar dari neraka ini!” jawabku dengan nada oktaf yang ga kalah tinggi, Celine Dion pasti lewat. Segera kutarik koperku, kutenteng tas besarku, dan kunaikkan shoulder bag-ku hingga ke pundak. “Selamat tinggal. Semoga mama bisa hidup bahagia dengan cowok berondong itu. Aku yakin, papa di surga mungkin bisa menghargainya. Tapi, maaf, aku ga bisa,” kataku ketus.
Yah, itulah pidato perpisahan luar biasa seorang anak kepada mama tercintanya, sangat mengharukan. Dramatis. Apalagi diberi closing musik gledek-gledek koper, bruak keras pintu, dan guku-guk-guk sapaan anjing herder tetanggga. Seprti pepatah, anjing menggonggong, kalifahpun berlalu…
***
Sudah setengah semester ini aku aku tinggal sendirian di sebuah kos-kosan murahan yang ga banyak diminati cewek kuliahan lainnya. Dalam melanjutkan hidupku (baca:survive), aku terpaksa menghemat tabunganku (yang sebenarnya hasil jerih payah papa ketika dia masih hidup) mati-matian. Belakangan, aku mulai mencari kerja part-time untuk lebih menjamin kesejahteraanku. Tapi, sejauh ini aku hanya berhasil menjadi pengangguran sukses.
Aku ga tahu gimana kabar mama dan calon suaminya berondongnya itu. Aku ga mau tahu. Aku ga peduli…
“Sara, kamu kenapa? Kok nangis?” tanya Arya.
Saat itu, aku dan Arya, pacarku, sedang dinner di sebuah resto kecil untuk merayakan ulang tahun kami. Kami? Ya, aku dan Arya. Kami sama-sama lahir di tanggal 13 Desember. Sweet destiny, isn’t it?
Aku menghapus airmataku. “Enggak, aku cuma inget mama. Apa dia inget kalo aku lagi ultah ya? Atau, dia lagi sama cowok bego itu?”
Arya tersenyum. “Tenang aja. Dia pasti ingat. Mau nelepon dia?”
Aku menggeleng. “Ga usah. Aku….aku masih belum bisa maafin dia…”
Arya meraih tanganku. “Calm down, aku yakin waktu bakal ngerubah segalanya. Termasuk perasaan bencimu sama mamamu.”
“Entahlah,” kataku,” aku harap begitu. Tapi, Ar, waktu ga bakal ngerubah perasaanmu sama aku kan. Cuma kamu yang aku punya, ga ada orang lain lagi…”
“Bodoh, tentu aja berubah.”
Aku menatapnya tajam, ga percaya sama kata-katanya.
“Aku, perasaanku, bakal berubah. Tiap hari rasa sayangku tambah besar, sampai-sampai aku udah ga bisa ngukur lagi.”
(to be continued)

Selasa, 2008 Januari 08